Ephitelial Barrier yang rusak ternyata menjadi salah satu alasan utama dari banyaknya kasus autoimun dan alergi, begitu tangkapan judul dari salah satu rekomendasi yang muncul di layar youtube saya pagi ini. Apalagi mengingat saya juga punya salah seorang sepupu yang mengalami autoimun kronis, dan sejumlah reaksi alergi saya sendiri terhadap sejumlah bahan-bahan kimia.
Kebiasaan setelah shalat subuh dan habis beberes saya di akhir minggu memang bersantai mendengarkan ceramah, entah itu dakwah dari para Ustadz maupun soal kesehatan. Dua hal ini yang kadang membuat saya merasa hidup, benar-benar hidup dengan jelas.
Jadi, ada hal yang sangat penting menurut saya, yang harus saya bagi kepada pembaca budiman hari ini. Setelah saya mendengarkan paparan dari dokter Stevent Sumantri ini, seakan bertambah lagi ilmu pengetahuan saya tentang bagaimana tubuh ini diciptakan dengan begitu sempurna, pun dengan mekanisme kerjanya.
Profesor Cezmi Akdis dalam Kongres APAAACI 2024, sumber : Linkedin APAAACI 2025
Apa Itu Ephitelial Barrier?
Jadi, ephitelial barrier ini adalah lapisan yang sangat tipis yang membatasi setiap organ-organ tubuh manusia. Jaringan epitel atau lapisan epitel tidak hanya ada di kulit saja, namun lapisan ini memagari batas-batas lapisan tubuh kita mulai dari kulit, saluran cerna, pembuluh darah, saluran napas, sampai ke kelenjaar-kelenjar sampai ke ginjal dan otak. dan organ-organ lain.
Ternyata lapisan ini memiliki fungsi lain yang tak kalah penting yaitu :
- Untuk memfasilitasi terjadinya perpindahan gas oksigen, karbondioksida di saluran nafas;
- Memfasilitasi hati untuk dapat memetabolisme dan mensekresi zat-zat penting untuk proses pertahanan tubuh dan termasuk detoksifikasi
- Mempunyai fungsi mensekresi atau megeluarkan hormon atau lapisan perlindungan tubuh yang penting seperti air mata, air liur, termasuk hormon di kelenjar tiroid, pankreas
- Di saluran cerna, fungsinya lebih penting lagi, yaitu membantu menyerap sari makanan ke dalam pembuluh darah yang letaknya di bawah jaringan epitel. sehingga ketika saluran cerna epitel kita terganggu otomatis penyerapan gizi dan nutrisi makanan juga akan terganggu
- Pada organ ginjal, epitel ini berfungsi untuk melakukan filtrasi, membantu tubuh mempertahankan cairan sekaligus membuang racun-racun terlarut air yang tidak dibutuhkan tubuh. Sehingga secara logika, pada orang dengan gangguan ginjal filtrasinya terganggu dan kemudian terjadi peningkatan racun dalam tubuh sehingga mengalami urenia dan koma.
Jadi epitel ini harus dijaga dengan baik agar fungsinya dapat berjalan dengan maksimal. Dengan kata lain, untuk menjaga agar organ-organ tubuh dapat menjalankan fungsinya dengan baik, maka keberadaan jaringan epitel ini juga harus terjaga.
Bagaimana Ephitel Barrier Bisa Rusak?
Dalam Kongres APAAACI (Asia Pacific Association of Allergy, Asthma and Clinical Immunology) di Kuala Lumpur, Malaysia, yang diadakan pada 12-15 Desember 2024 lalu, seorang Ahli Imunologi dari Swiss yang merupakan salah satu tokoh terkemuka dunia bernama Profesor Cezmi Akdis memaparkan bagaimana ephitel barrier kita bisa rusak.
Menurut profesor yang sudah puluhan tahun bergerak di penelitian terkait alergi dan imunologi, Kerusakan lapisan epitel merupakan permasalahan yang menyebabkan banyaknya penyakit kronik di jaman modern ini.
1. Terjadinya kerusakan dari lapisan epitel tubuh yang disebabkan faktor dari luar ataupun pada beberapa orang ada yang punya kecenderungan genetik yang lebih lemah.
2. Peradangan ini mengakibatkan terjadinya inflamasi kronik, dan kebocoran dari lapisan epitel tersebut, sehingga lapisan yang bocor ini memudahkan mikrobiota , protein asing dan toksin yang ada di luar bisa masuk ke organ tubuh/ke tubuh kita, baik di saluran cerna, napas, kulit maupun pembuluh darah
3. gangguan ini mengakibatkan terjadinya gangguan mikrobitoa di saluran cerna, kulit, nafas dan kehilangan biodiversitas yang mengakibatkan tubuh kita mudah di kolonisaasi atau diinvasi oleh bakteri, kuman yang sifatnya oportunistik, sehingga gampang infeksi, dan sistem imun kita melemha, dan mudah kanker.
4. terjadinya berbagai kerusakan ini kemudian mengakibatkan lapisan ephitel yang rusak tadi lebih sulit untuk memperbaiki diri atau sembuh. Karena lapisan ini sulit sembuh, lebih mudah lalgi terpapar faktor-faktor yang merusak tubuh.
Jika saya boleh jujur setelah membaca point 4, kita akan sama-sama berfikir bahwa apabila lapisan ephitel ini sudah terkena gangguan atau kerusakan, seakan proses penyembuhan menjadi lingkaran setan yang lebih sulit lagi bagi tubuh.
Dalam bahasa mudahnya, menurut dokter Stevent, Lapisan Ephitel ini bisa kita ibaratkan rumah dengan atap, dinding, lantai, saluran air, dan kabel listriknya. Bayangkan apabila atapnya bocor, pipa airnya bocor, listriknya konslet, dindingnya retak, maka kita harus segera memperbaikinya dengan tepat, kadangkala saat proses perbaikan ini juga bisa mengakibatkan kerusakan lebih lanjut.
Hal ini lah yang terjadi ketika lapisan epitel ini bocor, dimana sistem imunitas tubuh akan bekerja berlebihan dan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut. Lalu Bagaimana cara terbaik untuk mengatasi hal ini? Ya hindari sebisa mungkin faktor-faktor yang menyebabkan lapisan ephitel kita akan terganggu atau mengalami kerusakan.
Penyakit Kronik Apa Saja Yang Dapat Ditimbulkan
Adapun sejumlah penyakit kronik yang dikaitkan dengan gangguan perlindungan ephitel adalah :
1. Penyakit Alergi yang meliputi asma, atopic dermatitis, alergic rhinitis, sinusitis, alergi makanan, alergi mata
2. Penyakit Autoimun seperti hashimoto thyiroiditis, grave’s desease, osteoarthritis, rheumatoid arthtritis, multiple scelerosis, lupus, masalah pencernaan seperti celiac, crohn’s dan autoimmune hepatitis
3. Penyakit Metabolik yaitu Obesitas, diabetes dan sirosis hati
4. Penyakit Neuropsikiatrik seperti alzeimer, parkinson, depresi kronis dan autisme
Keempat golongan penyakit di atas diketahui semuanya diakibatkan dari kebocoran-kebocoran yang terjadi di lapisan epitel kita yang kemudian mengakibatkan peradanganan di organ jauh bahkan di otak dan sendi.
Jika kebocoran peradangan akibat kebocoran terjadi di otak maka biasanya akan mengakibatkan degenerasi di otak, sedangkan jika di sendi akan mengakibatkan arthritis, osteoporosis, dan mengakibatkan kelemahan otot yang dipercepat.
Dari kongres tersebut bahkan diketahui bahwa Semakin lama semakin bertambah, bahkan sudah mencapai 68 penyakit yang sudah dibuktikan terkait langsung dengan kebocoran atau kerusakan di ephitel.
Faktor-Faktor Penyebab Kerusakan Ephitel
Ada beberapa faktor penyebab kerusakan Ephitel Barrier yang patut kita ketahui diantaranya :
- Dari lingkungan sekitar kita seperti : asap rokok, bakteri, tungau, alergen, virus, jamur.
- Produk sehari-hari yang mengandung deterjen, seperti dalam cairan pencuci piring ataupun sabun cuci baju. Khusus untuk cairan cuci piring, pastikan agar tidak ada deterjen yang tersisa, yang memungkinkan sisa deterjen masih menempel dan terbawa ke dalam tubuh.
- Surfaktan yang terkandung dalam sejumlah produk seperti Shampoo, sabun, pengental (emulsiefer makanan ultra proses food, seperti saus. Faktanya emulsiefier ini tetap bekerja di saluran cerna mengikat air dan lemak dengan sangat kuat yang harusnya ada di dinding sel cerna kita, sehingga lapisan ini akan rusak yang menyebabkan radang di saluran cerna seperti gastritis, luka lambung). Mirisnya kemudian ujung-ujungnya diatasi dengan obat-obatan penurun asam lambung, padahal bukan ini masalahnya, tapi emulsiefer ini, maka jadilah lingkaran setan yang tak berujung sembuh.
- Ozon yang lagi trend dengan terapi ozone, perlu diketahui ozone atau O3 itu adalah toksin yang merupakan senyawa radikal bebas yang sangat kuat, yang membuat tubuh stress dan menimbukan kerusakan.
- Partikel kecil (nanopartikel) yang mampu menembus kulit dan saluran cerna, kemudian beredar kemana-mana dan menjadi sumbatan di pembuluh darah kecil. contohnya suplemen tertentu ataupun kosmetik tertentu.
- Pembersih rumah tangga seperti cairan pel lantai dengan antiseptik atau deterjen dan bahan toksik lainnya, dimana akan terus menempel di lantai dan menimbulkan paparan ke penghuni.
- Perlengkapan mandi seperti pasta gigi dengan deterjen (busa) ini justru menyebabkan rusaknya lapisan pelindung gigi kita.
- dan wadah plastik yang dapat meningkatkan resiko mikroplastik masuk ke tubuh dan pembuluh darah.
Nah dengan bocornya lapisan-lapisan ini, yang menyebabkan berbagai allergen, racun, polutan, mikroba dan pathogen mudah sekali masuk ke tubuh khsuusnya saluran cerna.
Coba ini : Sabun dari biji lerak, Lerak Kupas tanpa Biji Grade A, Cold Press minyak avocado murni, Beras Organik , Eco Enzym shampoo
Gluten Tak Sepenuhnya Bersalah
Ada yang lucu dalam salah satu bahasan dalam video tersebut, dimana saya baru tahu bahwa gluten tak sepenuhnya bersalah atas berbagai penyakit degeneratif yang saya ketahui.
Jadi akibat dari lemahnya atau kebocoran jaringan epitel barrier ini, bahkan dapat mengakibatkan sebuah protein yang tidak maslaah seperti gluten, dijadikan kambing hitam yang menyebabkan penyakit kronik.
Padahal faktanya adalah gluten ini protein makanan yang telah dicerna di saluran cerna, dipecah jadi asam amino di usus halus. Kesalahannya adalah, gluten ini harusnya tidak bisa tembus masuk ke pembuluh darah, namun karena adanya kebocoran lapisan epitel, sehingga asam amino ini justru masuk ke pembuluh darah, yang kemudian terbawa dan nyangkut ke otak, nyangkut di sendi, dan di kulit.
Coba cek ini : Minyak Kelapa organik, Tepung mocaf non gluten, Organic pump seeds (biji bunga matahari siap konsumsi)
Nah asam amino yang nyangkut di tempat yang salah inilah yang kemudian memicu sistem kekebalan tubuh (sistem imun kita) melihatnya sebagai benda asing, sehingga di seranglah oleh sistem imun. Pada akhirnya saya tertawa sendiri, menyadari bahwa kemungkinan besar masalahnya justru bukan gluten, namun lemahnya jaringan ephitel di saluran cerna kita sendiri.
Bersambung …………………
*berhubung harus menghadiri workshop jadi tulisan dilanjutkan di lain kesempatan ya, semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat ya.


Tinggalkan Balasan ke Resep Spagheti Bologness Versi Sehat – My Unique-Lab Batalkan balasan