Jangan Merasa Sendiri, Karena Sendiri Itu Dari Dulu

Semua soal waktu, jadi jangan lagi katakan bahwa ‘sekarang aku sendiri’. Tak ada yang benar-benar akan membersamaimu, bahkan keluarga terdekat sekalipun. Karena jika mau jujur, sendiri itu sudah dari dulu. 

Sumber : canva.com

Hanya saja kadang persepsi kita belum benar-benar menemukan, apa sih makna hidup dan kehidupan. Hingga jika saja kita sadar, bahwa kita tidak dilahirkan bersama siapapun. Bahkan bayi kembar sekalipun akan berpisah dengan kehidupannya masing-masing.

Sebut saja yang paling jujur dan setia, orang tua kita, ibu kita, Orang yang dulunya siap berkorban nyawa untuk melahirkan kita sekalipun, tak akan selamanya bersama kita. Apalagi sekelas teman, sahabat, paman, bibi, keponakan, pasangan hidup, atau jabatan dan harta.

Sekali lagi, jika mau jujur semua itu adalah titipan. Titipan yang pada akhirnya akan diambil kembali pada waktunya. Kita bisa menangisi orang terkasih yang pergi, atau sudah meninggal dunia. Namun kita kadang lupa kita hanya menunggu giliran saja. Jika sudah waktunya, kita akan kembali pulang ke tempat yang seharusnya.

Lalu mengapa kita masih harus merasa sendiri?

Soal Manusia dan Perasaannya

Tapi tak ada yang salah juga dengan sesekali merasa sendiri. Pasalnya kita manusia dikaruniai hati dan akal untuk merasa dan berfikir. Namun perasaan seperti itu tak harus membuat kita meratap bukan? Apalagi berfikir seakan hidup sudah tak ada artinya lagi. 

Saya pernah, oh bukan pernah, tapi sering sekali sepanjang hidup saya mengalami ini. Ketika kecil saya kadang dipaksa belajar, seakan merasa sendiri, menjadi anak yang kehilangan waktu bermain.

Ketika di bangku sekolah saya pun merasa sendiri, karena berbeda dari yang lain. Ketika anak-anak yang lain pulang sekolah dijemput orang tua, pulang sekolah langsung istirahat atau bahkan ketika tahun ajaran baru mereka hadir dengan sepatu dan tas baru.

Pun ketika saya ditinggalkan oleh sosok Bapak yang membuat dunia saya seakan runtuh. Bahkan saat badai terbesar dalam hidup saya yang pada akhirnya memberi saya tamparan keras. Menyadarkan saya, bahwa dunia bukannya kejam. Tapi kamu saja yang belum sadar!

Semua luka dan perasaan sakit, semua kepedihan dan bisikan-bisikan yang menyakitkan. Stigma bahwa disitulah akhir dari segalanya. Seakan kita tak lagi mampu berjalan dan menjalani kehidupan. Padahal semuanya hanya soal “rasa dan perspektif yang berbeda”.

Sadari, Bahwa Kita Memang Sendiri

Ingat ketika kita diminta mandiri, suatu hari saat mereka orang dewasa melihat usia kita mulai beranjak. Dan itu adalah hal selalu kita banggakan.

Yang kita tahu, mandiri adalah moment dimana kita mulai bisa berdiri sendiri, jalan sendiri, mandi sendiri, melakukan apapun urusan kita sendiri atau ketika sudah dewasa, kita menjalani hidup kita sendiri.

Kita harus bertanggung jawab atas apapun yang kita lakukan sendiri, tanpa merugikan orang lain. Seharusnya begitu bukan? Lalu bagaimana ketika kita butuh pertolongan? Minta tolong tentunya.

Namun apakah kemudian itu akan membuat kita pada akhirnya tak sendiri lagi? Tidak juga, faktanya ketika kita punya pasangan, ia hanya akan mendampingi kita dan memberikan dukungan. Berusaha mencari solusi juga untuk kita. Namun kita tetap merasakannya dan harus menghadapi masalahnya sendiri juga.

Atau ketika kita sedang kolaps, di titik jatuh dan sangat butuh bantuan dari mereka yang katanya teman atau sahabat mungkin. Tapi kemudian mereka hanya bisa bilang “maaf” tanpa effort apapun. Seketika perasaan sendiri itu hadir dan menyergap.

Diri ini, karena ada hati dan akal, tak bisa mengelak dari pedihnya ujian kehidupan. Hingga pada akhirnya kita akan mati dan dikubur sendiri. Siapa yang mau menemani? Ah, lucu bukan?

Padahal kalau mau jujur, kita harusnya sadar. Hey, dari dulu juga kita sudah sendiri. Lahir, anak-anak, remaja, dewasa, lansia, almarhum juga. Pejabat, selebritis, kyai, ustadz, dan milyoner sekalipun, dikubur sendiri juga.

Jadi, ada apa dengan kalimat “kamu tak sendiri, kami di sini” dari orang-orang tercinta dan dari para pendukung kita? Tapi anehnya kita lupa bahwa Tuhan yang menciptakan kita selalu ada untuk kita, tanpa syarat dan imbalan.

Kesadaran Diri Adalah Benteng Terbaik

Satu ketika saya pernah merasa berada di puncak kesuksesan, sampai hati saya berbisik “semua sudah kumiliki, aku sudah tak mencari lagi”. Dan di tahun berikutnya semua itu lenyap.

Hidup seperti ditampar sekeras-kerasnya, semua hancur berantakan. Ibarat Kapal laut yang patah jadi dua dan tenggelam ke dasar samudera. Titik terberat dan sangat jatuh, sejatuh-jatuhnya. Di situ semua terasa kosong, nelangsa, tak punya makna.

Tiap kali bangun pagi selalu bertanya-tanya “ini mimpi atau nyata?”. Dan kemudian realita hadir dan kembali menyiksa. Fakta bahwa semua yang pernah kata saya “kumiliki” menjadi lenyap tak tersisa.

Tapi di titik itu Allah seakan berbisik penuh sayang “Tenanglah, di sini ada Aku. Selalu di sini, mintalah apapun yang engkau mau”. Bahkan tetiba dalam otak yang seakan belum siap diajak berdamai, hati yang masih berdarah-darah, pikiran paling rasional muncul.

“bukankah semua yang kamu dapati di dunia ini memang titipan? Teman, keluarga, sanak saudara, harta bahkan anak. Kenapa ketika yang punya ingin ambil lagi dan kamu jadi berduka? Ataukah selama ini kamu begitu sombong seakan Tuhan sudah tak perlu peduli padamu lagi, padahal Allah ingin mendengarmu meminta? Bagaimana jika ini adalah waktunya kamu naik ke level selanjutnya, bukankah kamu berdoa menjadi hamba yang diteguhkan iman dan taqwanya?”

Ketika kesadaran itu akhirnya hadir, saya ingat dengan jelas. Saya mulai bangkit, mengangkat wajah dengan penuh tekad. “Aku bisa berjalan sendiri seperti yang seharusnya”.

Dan kesadaran diri itu pada akhirnya membuat saya melihat banyak hal lain yang sebelumnya tak pernah saya sadari. Bahwa saya bisa merengkuh banyak hal ketika titipan tadi diambil dari saya, dengan paksa. Saya bisa melihat potensi diri yang selama ini sembunyi di balik kata “nyaman bersama”.

Atau saya bisa melihat begitu banyak peluang untuk anak-anak saya ke depan. Semua seakan membuka tabir yang begitu lama tertutup angan-angan “memiliki”, yang sebenarnya di titipi.

Akan Ada Yang Datang dan Pergi, Tapi Tuhan Tetap Disini

Please, jangan pernah merasa hidupmu tak berarti. Dimanapun kalian berada, sehancur apapun dunia yang kalian punya dan rasa. Sebesar apaun badai menerjang dan memporak-porandakan hidup yang kalian jalani.

Ingatlah, Tuhan selalu ada dan tak pernah pergi. Semua yang kalian kenal akan datang dan pergi, itu hukum kehidupan. Tak ada yang benar-benar tinggal. Jadi bersiaplah ketika waktu itu tiba.

Ketika harta yang sudah susah payah kalian usahakan, ludes dalam sekejap. Jangan katakan itu akhir dari segalanya, bukankah memang kalian tak punya apa-apa selain titipan dari Tuhan Yang Maha Kaya?

Atau ketika orang tercinta diambil pulang ke Hadiratnya, lalu kalian mikir ingin mengakhiri hidup karena dunia sudah terasa begitu menyiksa oleh nelangsa. Padahal Tuhan awalnya menitipkan ia hanya untuk tahu bagaimana besarnya Cinta dari Sang Pencipta. Lalu kita jadi lupa.

Ah, sebaiknya kita memahami siklus kehidupan yang begitu alami. Jangan pernah lupa bahwa kitapun akan datang dan pergi dalam hidup seseorang. Kita pun sedang antri menunggu waktunya mati.

Bagaimana jika kita jalani saja skenario Tuhan dengan mengingat bahwa tak ada apapun untuk kita miliki. Semua hanya soal waktu dan titipan.

Selamat berjuang untuk siapapun yang sedang kesulitan, sedang menangis, sedang patah dan sedang tertawa. Untuk adik perempuanku yang paling bontot, semoga ini adalah awal kesuksesan seperti doa ku, doamu dan doa kita.

*Untuk adik perempuanku yang sangat sering bikin kesal, tapi harus kulepaskan mengenal dunia baru di luar sana.

Tinggalkan komentar