Ini bukan tentang coklat panas, atau kesukaan saya tentang coklat panas. atau tentang dunia yang indah dalam pandangan saya ketika menikmatinya di pagi hari, sambil berjemur di bawah matahari.

Tapi ini tentang sudut pandang dunia yang indah itu sendiri. Kadang pikiran kita dijejali dengan banyak hal kompleks, entah yang kita temui dan lihat sehari-hari. Atau sekedar pemikiran yang dibagi dari beberapa orang teman.
Banyaknya hal yang terjadi membuat kepala kita terasa penuh kadang, sampai hal sepele yang dekat dan menghadirkan bahagia tenggelam. Tertumpuk di dasar ingatan, hingga kita lupa.
Hayalan dan Ekspektasi
Tak ada yang salah ketika kita berkhayal tentang bagaimana menikmati dunia, supaya terasa indah di pandangan dan hidup kita. Tak salah juga jika berekspektasi tentang bagaimana indahnya dunia melalui bayangan kita saat ini.
Ada yang berkhayal dunia itu akan terasa indah ketika bisa jalan-jalan ke luar negeri, atau yang ingin menjelajahi negeri. Dengan tiket di tangan, ala backpacker atau dengan geret koper.
Ada yang ber ekspektasi, dengan tour 3 negara hidupnya akan terasa sangat bahagia. Atau yang pergi umroh sehingga indahnya bisa lebih terasa. Atau mungkin jika dia mendapatkan pekerjaan yang bergaji tinggi dan segudang prestasi.
Namun itu semua kembali lagi hanya khayalan dan ekspektasi. Syukur-syukur jika jadi nyata dan bisa terwujud. Tapi bagaimana dengan yang tidak?
Menikmati Indahnya Dunia Dari Jarak Terdekat
Bagi saya, anda, kita, kalian yang merasa indahnya dunia saat ini belum terasa. Mungkin masih ada yang hilang dari cara kita melihat dunia. Mungkin kita belum berdiri di depan cermin dengan benar sehingga yang terlihat hanya sebagian.
Karena sepertinya kita selalu melihat ke arah sesuatu yang jauh di sana. Iya, masih jauh dari jangkauan dan pandangan. Jauh juga dari kenyataan yang tak sesuai dengan kondisi sekarang.
Lalu kenapa kita harus paksakan? Bahwa dunia yang indah harus kita nikmati hanya ketika khayalan dan ekspektasi kita jadi nyata. Kenapa tidak berusaha melihat hal terdekat yang kita sukai dulu, yang dapat kita jangkau dulu, yang tak harus kita tunggu dulu?
Seperti kecintaan saya kepada segelas coklat panas tanpa gula, yang saya tau manfaatnya sangat bagus bagi kesehatan saya. Saya nikmati di pagi hari, saat mentari mulai terbit. Menikmati citarasa di resto mahal dengan penuh ketenangan.
Menikmati berjemur di bawah mentari pagi, dengan headset di telinga dan lagu Bondan Prakoso & Fade to Black berjudul Bunga. Setiap seruputan coklat panas yang gurih dan seakan bereaksi di badan.
Saya nikmati di Sabtu pagi, akhir pekan dimana saya tak perlu terlalu berfikir soal pekerjaan di kantor esok Seninnya. Bukankah ada waktunya bekerja dan menikmati hidup sendiri?
Apakah Semua Orang Bisa Begitu?
Tentu saja, hanya saja kadang ingatan dan otak kita begitu lupa oleh sibuknya urusan dunia. Kita lupa membagi kapan harus menjalani hidup sebagai pekerja, sebagai diri sendiri, dan sebagai hamba Tuhannya.
Kadang manusia lupa bahwa fokus itu harus dibagi sesuai porsinya. Contohnya saja, ada orang tua yang terlalu larut dengan tugasnya mencari nafkah, sampai lupa bahwa waktu bersama anak-anaknya tergerus dan hilang.
Ada yang terlalu asyik dengan tugas-tugas kuliahnya, lalu lupa bagaimana menikmati hidupnya ketika dia berada di tengah orang tuanya. Atau ketika libur semester tiba dan ia masih berfikir tentang kuliah besoknya.
Dan kadang semuanya mengeluh kelelahan karena fokus di satu tempat itu saja. Ternyata manajemen waktu menentukan bagaimana kita dapat menikmati indahnya dunia.
Padahal kadang tak perlu tiket penerbangan atau kereta. Hanya cukup bangku kecil di depan jendela, dan segelas minuman favorit kita. Atau satu buku cerita dan pisang goreng di meja.
Ah, bagaimana dengan kalian? Sudah mencoba mengingat hal apa yang paling kalian sukai di akhir pekan? Coba mulai lakukan agar dunia ini tak terlalu mengekang dan terasa seperti mengajak perang.

Tinggalkan komentar