Sehat Itu Ribet! Benarkah?

hidup sehat itu ribet

Sehat itu ribet, begitu kata sebagian orang. Perilaku Makan makanan sehat itu ribet, pola hidup sehat itu ribet, begitu juga dengan kebiasaan hidup sehat.

Ah, sebenarnya dulu sayapun pernah ada di posisi mindset itu. Makan seenaknya, pola hidup berantakan. Gangguan mulai terasa, berawal ketika umur baru 30 tahun dan tulang sering ngilu ketika cuaca dingin. Atau sakit di bagian perut dan pinggang ketika datang bulan.

Namun ternyata saya sampai di satu fase atau titik balik yang membuat saya sadar bahwa mindset itu salah dan perlu dirubah. Jadi saya punya jawaban buat para “instant thinker” yang suka menyepelekan makanan dan kebiasaannya.

Baca juga : Alergi dan penyakit tulang sembuh, dengan merubah makanan

Okey saya jawab satu persatu yak, disclaimer dulu bahwa ini tips saya buat untuk yang mau mencoba menikmati kuliner dengan gaya hidup sehat aja sebenarnya.

Hidup Sehat itu Ribet

Kalau bicara ribet, coba tanya diri sendiri, lebih ribet mana “ketika sakit dan bolak balik berobat dengan rasa sakit di tubuh dan ga boleh makan ini itu” atau “ribet nyiapkan makanan sehat yang bisa meminimalisir faktor penyebab penyakit degeneratif, trus kita juga bisa nikmati dengan rasa resto?”

Kenapa sampe repot-repot buat sendiri, karena namanya masakan sehat ya pasti menghindari pemanis buatan, gula pasir, garam berlebih, pengawet, pewarna buatan, penguat rasa sintetis dll. Sementara di saus dan kecap yang kalian beli, silahkan dibaca apa kandungannya.

Mie spagethi itu memang tepung ya, tapi minimal ga dipakein pemutih macam tepung terigu, tepung beras dan tepung ketan kemasan yang banyak di pasaran. Jadi ketika ingin buat spagethi sendiri, minimal kita imbangi dengan penggunaan saus yang aman buat kesehatan diri, maka kudu dan harus buat sendiri.

Baca juga :Resep Saus Tomat Rumahan, Dijamin Lebih Enak Dari Yang di Toko!

Makanan dan Bahaya Penyakit Degeneratif

Terakhir saya ga bosan-bosannya mengingatkan, penyakit degeneratif itu adalah hasil dari makanan dan pola hidup selama bertahun-tahun dan puluhan tahun. Itulah mengapa saat ini kalian merasa “sehat-sehat” saja, karena memang belum waktunya penyakit itu terbentuk sempurna.

Namun yang harus kalian ingat adalah, ketika sudah sakit atau mengidap penyakit berat tersebut, maka persiapkan tabungan kalian untuk membayar berbagai tahapan penyembuhan. Siapkan juga mental menghadapi rasa sakit dan tidak nyaman.

Siapkan juga hati untuk iri melihat orang lain sehat wara-wiri bahkan meskipun umur mereka lewat dari umur anda. Sanggup?

Ibarat kata di sinetron “saya rela bayar berapapun asalkan saya sembuh”. Ironis sekali kan? orang berani bayar berapapun ketika sakit, cuma untuk bisa sembuh.

Namun anehnya banyak orang tidak berani bahkan keberatan untuk beli bahan makanan dan penunjang yang mendukung kesehatan badannya agar tetap sehat dan tidak menabung penyakit. Apalagi ada yang bilang “makan aja yang penting sehat”.

Lalu apakah bisa dibilang kita baik-baik saja dengan makanan tak sehat ini? Mari kita Be smart ya para pembaca budiman, percuma punya tabungan banyak tapi sakit-sakitan dan bolak-balik masuk rumah sakit. Percuma harta milyaran tapi duduk di kursi roda atau harus di papah orang lain.

Percuma punya orang-orang yang setia mengurus kita, tapi justru kita tak menikmati kebahagiaan untuk melihat mereka berjalan sehat bersama kita. Percuma……

Sehat itu Mudah!

Jadi bagaimana? Sehat itu mudah sebenarnya. Ribet itu sebenarnya urusan mindset kok. Kenapa saya bisa bilang begitu? Ada beberapa fakta yang perlu kalian pikir lagi, kira-kira begini :

  1. Makanan tak sehat itu, banyakan yang harus digoreng dulu, habis itu dicampur dengan campuran aneka saus, atau kaldu sintetis dan micin serta garam berlebihan.
  2. Makanan sehat itu hampir jarang make minyak goreng, jarang make bahan tambahan sintetis, pengolahannya lebih simpel dan mudah.

Ga percaya? Contoh, cemilan yang rasa manisnya enak dan sehat serta murah : pisang lilin atau pisang kepok kukus. Camilan yang ga sehat : seperti cake dan kue : harganya pasti akan lebih mahal kok dari pisang rebus atau kukus.

Atau pada masakan, ikan rajang atau ikan bumbu kuning yang kaya rempah dengan proses bumbu cukup geprek atau blender, tumis pake minyak kelapa lalu tambah air, masukkan ikan dan garam saja sudah enak dan bergizi alias nutrisinya masih terjaga.

Dibandingkan dengan Abon yang prosesnya panjang x lebar dengan modal minyak goreng banyak, tenaga dan hasil nya abon yang nutrisinya mungkin sudah sisa-sisa.

Artinya, kalau mau jujur, masakan sehat itu justru lebih murah dan simple. Cuma kadang kita saja yang tidak sadar faktanya. Namun semua kembali lagi ke pilihan masing-masing.

Karena banyak yang bilang sayang kesehatan tapi cuma di mulut saja, meskipun banyak yang mencintai diri sendiri dengan perbuatan alias aksi.

Tinggalkan komentar