Spiritualitas, Bentuk keimanan yang selalu memberi kekuatan. Bagi saya itu tak terbantahkan.
Menit dimana saya tuliskan ini, adalah moment dimana satu jam yang lalu saya menemukan hal yang sangat mengecewakan bagi saya. Membuat saya merasa, ini seperti memulai dari Nol.

Hal yang sudah saya bangun selama 2 tahun dan tetiba hanya karena proses migrasi kecil dan kemudian jadi zonk. Traffict beberapa artikel yang saya tujukan untuk edukasi masyarakat tetiba runtuh, cuma karena proses migrasi tanpa pertimbangan.
Bukan kesalahan saya memang, tapi itu berimbas besar pada effort saya selama 2 tahun ini. Dimana laman tersebut menjadi salah satu referensi awal di laman satu mbah google. Rasanya ingin nangis, tapi saya tetiba pasang headset dan pikiran saya terbang ke beberapa waktu lampau.
Optimis: Habis Kecewa Berbuah Manis
Dulu sekali, ketika saya baru lulus SMA, saat sedang gigihnya mencari kerja kakrena sangat ingin mandiri. Dan tawaran dari kakak misan saya datang. Melalui telpon, waktu itu dia bilang ‘masukkan lamaranmu, saya sudah bicara dengan bos’. Dan dengan optimis saya pun membuat surat lamaran dan CV.
Namun entah bagaimana saya tetiba ingat sahabat saya dan ingin juga mengajaknya untuk sama-sama masukkan lamaran. Alhasil kami berdua datang dan melamar ke perusahaan baru itu.
Sehari, dua hari tidak ada telpon. Namun yang menelpon saya justru teman saya itu, dengan heboh dia berkata “Er, saya diterima”. Rasanya sangat kecewa, luar biasa. Saya yang ditawari dan dia yang lulus.
Namun saya berusaha terima dengan lapang dada, dalam hati saya bicara kepada Sang Pencipta. ‘lalu bagaimana dengan saya ya Allah?’. Apa hikmah semua ini sebenarnya. Meski saya akhirnya bangkit lagi dan cari-cari lowongan lain juga.
Dengan keyakinan bahwa Allah akan beri saya yang lebih baik, akhirnya saya lanjutkan perjalanan, menjadi sales selama sebulan, menjadi penjaga konter hp selama 3 bulan dan kemudian pada akhirnya saya menikah.
Selanjutnya, 2 bulan pernikahan saya ikut test CPNS di injury time, segala sesuatu diurus dalam waktu satu hari, duit pinjam untuk bikin SKCK dan sat set buat dokumen yang lain. Meskipun saya sempat ragu dan ingin mundur, namun akhirnya saya pun nekat.
Bismillah, doa ibu sudah saya kantongi, restu suami sudah dapat, dukungan keluarga sudah menyertai, dan memang benar, optimis dan tawakkal itu tidak pernah salah. Saya lulus tes CPNS, dan jadi PNS hingga saat ini.
Godaan Ketika Bekerja
Jangan tanya bagaimana godaan di lingkungan kerja, karena pastinya di setiap kantor pasti ada. Apalagi soal duit dan celah-celah korupsinya.
Sudah rahasia umum, oknum itu selalu ada kok. Menjaga integritas itu mudah, namun modalnya yang berat. Iman! Apalagi? Taqwa, alias kepatuhan pada perintah dan laranganNya.
Kalau mau cerita godaan ketika saya bekerja, selama 17 tahun ini hampir sudah tak terhitung. Mungkin kalau saya turuti, pastinya saya sudah tak mungkin masih bayar cicilan rumah yang cuma type 36 ini selama 15 tahun. Atau cuma punya motor matic sebiji untuk ngantor tiap hari, sampai 17 tahun ga bisa punya mobil juga. haha…
Kadang saya takut jika ada orang mau ke rumah untuk tanya-tanya ini itu, saya lebih suka bertemu di kantor. Meskipun dengan alasan, bahwa di rumah waktu untuk anak dan keluarga. Padahal aslinya takut jika dikira ini itu atau bahkan dijebak.
Namun hikmahnya, saya sadari bahwa rasa takut akan hukuman Tuhan itu menjadi benteng yang paling mumpuni. Rasa takut kehilangan nama baik di mata manusia dan Tuhan itu menjadi sangat menyiksa. Rasa yakin akan balasan yang manis di akhir itu selalu jadi penguat diri. Jujur, saya bersyukur bahwa saya pada akhirnya lebih kokoh menghadapi hal-hal curang itu.
Memupuk Iman dan Taqwa, Senjata Utama
Ada kebiasaan yang saya sukai dari kecil, yaitu mendengarkan kata-kata motivasi dari para ustadz dan kyai. Mau di radio ataupun televisi, bagi saya itu sama saja. Hingga hari ini, tiap pagi sambil bergelut di dapur, ceramah dari ustadz-ustadz kondang selalu saya dengarkan.
Bukan apa-apa, tapi seakan kekuatan hati terus bertambah dengan disirami setiap hari oleh hal-hal positif ini. Pasalnya semua berasal dari kalam Ilahi, dari Perkataan Tuhan Sang Maha Pencipta.
Dari situ saya pun sadar, bahwa besar sekali manfaatnya memupuk Iman dan Taqwa melalui hal-hal kecil ini. Bagaimana hal ini ternyata menanamkan rasa takut kepada Tuhan. Menanamkan rasa kecintaan untuk selalu optimis dan percaya pada takdir nya.
Bahkan dalam menghadapi badai terbesarpun, ternyata saya selalu bisa melaluinya, dengan keyakinan bahwa Allah selalu bersama saya. Begitu juga dengan detik ini.
Tetiba hati kecil saya bergumam, ‘tenanglah, rencana Allah selalu sempurna. Siapa tau situs yang kembali ke Nol itu adalah jalan baru bagimu’.
Ah sungguh meskipun sangat kecewa, namun bisikan-bisikan hati yang positif itu terus membuat saya akhirnya mampu melepaskan beban itu. Pun dengan kalimat-kalimat ustadz yang tiap hari saya dengar, bahwa tak ada yang kebetulan di muka bumi ini.
Terima dulu, rasakan dulu, jalani dulu, cari lewat Shalat dan sabar. Curhatnya cukup sama Allah saja, di atas sajadah saja. Sampai akhirnya Allah kasitau apa hikmahnya.
Terakhir kata-kata ustadz Adi Hidayat tadi pagi yanglumayan menohok
“Nabi saja do’anya dijawab 1,5 tahun kemudian, Nabi ini. Apalagi kita manusia biasa,” Maka saya memilih untuk tetap yakin bahwa endingnya pasti yang terbaik untuk saya.
*Untuk pembaca budiman yang sedang merasa kecewa, gagal, merasa tak berharga atau di ambang kehancuran, percayalah bahwa Allah memberimu ujian itu bukan tanpa alasan. Karena hanya Anda yang bisa.”

Tinggalkan komentar